Ads 468x60px

Photobucket

Senin, 22 Oktober 2012

Kisah tentang Sebuah Jam




Assalamu'alaikum



Seorang pembuat jam berkata kepada jam yang sedang dibuatnya, “Hai jam, sanggupkah kamu berdetak 31.104.000 kali selama setahun?”. 
Lalu jam pun menjawab, “Hah?? Sebanyak itukah??” (kata jam terperanjat), “Aku tidak mungkin akan sanggup”.
Sang pembuat jam bertanya lagi, “Ya sudah, bagaimana kalau 86.400 kali saja dalam sehari?”.
“Delapan puluh ribu empat ratus kali?? Dengan jarum yang ramping seperti ini?? Ooh Tidak tidak, sepertinya aku tidak mungkin akan sanggup”, jawab jam (penuh keraguan).
Lalu sang pembuat jam bertanya lagi, “Baiklah, bagaimana jika 3.600 kali dalam satu jam?”.
“Dalam satu jam berdetak 3.600 kali?? Tampaknya masih terlalu banyak bagiku”, (jam bertambah ragu dengan kemampuannya).
(dengan penuh kesabaran) Tukang jam itu kembali berkata, “Baiklah kalau begitu, sebagai penawaran terakhir, sanggupkah kamu berdetak satu kali saja setiap detik?”
“Naah.. Jika berdetak satu kali setiap detik, aku pasti sanggup!” jawab jam (dengan penuh antusias). 

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa, karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali dalam setahun, yang juga setara dengan berdetak 86.400 kali dalam sehari, yang setara pula dengan berdetak 3.600 kali dalam satu jam.


Pesan dari kisah tersebut :


Kita sering meragukan dan tidak percaya terhadap kemampuan diri sendiri, untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita yang tampak sangat besar. Kita lantas menggangapnya sebagai hal sangat berat yang tidak mungkin dapat kita lakukan. Namun sebenarnya, apabila hal yang dianggap besar tersebut kita perkecil dan perkecil lagi, lantas kemudian kita realisasikan hal-hal kecil tersebut secara konsisten serta kontinu, niscaya hal besar yang semula kita anggap tidak mungkin tercapai itu akan terealisasikan.


Intinya, hal besar akan tercapai dengan konsistensi dan kontinuitas, atau dalam islam kita mengenal "istiqomah". Tentu melekatkan konsistensi dan kontinuitas kepada diri sendiri itu bukan hal yang mudah, karena akan membutuhkan perjuangan.


Ingat, seribu langkah tidak akan ada tanpa adanya satu langkah pertama. Dan garis yang panjang hanyalah merupakan kumpulan dari titik-titik.

Dahulu kala pada zama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 
Semangat dan iman selalu naik turun. ketika kita sedang semangat dan iman kita sedang naik, maka kita sangat ingin melakukan amalan ibadah yang banyak. akan tetapi jika iman kita sedang turun, maka terasa malas untuk melakukan ibadah yang sangat banyak.

Para sahabat 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja sempat mengeluh akan banyaknya ibadah dalam Islam. Akan tetapi  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, selalu memberikan solusi terbaik bagi ummatnya. Yaitu (1) memilih amalan yang di sukai dan melaksanakannya secara kontinu. 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda :
"Amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit." 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga memerintahkan untuk
(2) melaksanakan amalan yang kita mampu untuk melaksanakannya dan tidak memberatkan diri kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,  bersabda :
"Laksanakan amalan semampu kalian, sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian (sendiri) yang bisan. dan sesungguhnya amalan yang paling di cintai Allah adalah amalan yang kontinu (berkesinambungan) walaupun sedikit."
 (HR. Abu Daud)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,  juga menjelaskan kepada kita bahwa amal ibadah kita tidak akan bisa memasukkan kita ke dalam surga kecuali dengan rahmat Allah subhanahu wa ta'ala
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,  bersabda :
"Beramallah dengan benar dan sungguh-sungguh, ketahuilah bahwa sesungguhnya seorang dari kalian tidak akan masuk surga karena amalannya. mereka berkata : dan apakah engkau juga wahai Rasulullah? beliau menjawab : tidak juga aku, kecuali Allah memberikanku rahmat-Nya. dan ketahuilah bahwa amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (berkesinambungan) walaupun itu sedikit." 
(HR. Muslim)

Bagi kita selaku seorang muslim, penting untuk memerhatikan arahan 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,  di atas. Dan kita beramal harus sesuai contoh dari beliau dan para sahabatnya. Beramal sedikit akan tetapi bisa terus menerus (kontinu), itu lebih baik dari pada beramal banyak akan tetapi tidak bisa kontinu.


Wallahu 'Alam
Wassalamu'alaikum



Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar